..

Kamis, 07 Juni 2012

makalah psikologi nafs (jiwa) dalam persepektif Al-Qur'an


Nafs Jiwa dalam Al- Qur’an
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah:
Psikologi 


Dosen Pembimbing : Dra. Ragwan Albaar, M.Fil.I

Disusun Oleh:
Erma Ayu Septiani                           (B03211008)

FAKULTAS DAKWAH
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM/C1
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2012
Nafs jiwa dalam Al-Qur’an

Kata nafs dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa makna, sekali di artikan sebagai totalitas manusia, yang  terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku.[1] Nafsu adalah suatu keinginan yang harus dipenuhi. Nafsu sering berkonotasi negatif seperti bernafsu besar dan lain sebagainya.
Dalam pandangan Al-Qur’an, nafs diciptakan Allah swt. Dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Al-Qur’an menganjurkan untuk memberi perhatian lebih besar, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah Swt.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾

Demi nafs serta penyempurna ciptaannya, Allah telah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan ketakwaan.(QS.As-Syams[91]: 7-8)
Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Untuk itulah titik tolak dari keshatan jiwa atau kepuasan diri adalah membenci hawa nafsu. Berkatalah ibn abbas,
“ sumber dari maksiat, nafsu birahi, dan kelalaian adalah kesenangan pada hawa nafsu. Sedangkan sumber dari ketaatan , keterjagaan, dan pengekangan diri dari hal yang hina adalah membenci hawa nafsu. Bagimu berteman dengan orang bodoh yang membenci hawa nafsu lebih baik ketimbang berteman dengan orang pandai yang menyukai hawa nafsunya,.”
Bahwa kualitas jiwa juga bergantung kepada kualitas fisik, terutama otak. Jika kualitas fisik dan otak mengalami gangguan, maka jiwa juga akan mengalami gangguan. Kerusakan pada otak menimbulkan kerusakan pada jiwa.[2]
Dalam jiwa manusia terdapat potensi keagamaan secara fitrah yang berasal dari Allah. Akan tetapi potensi itu tidak akan bisa muncul apabila di biarkan begitu saja tanpa adanya usaha untuk mengembaklikan fitrah itu dengan jalan membersihkannya, yaitu dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh pencerahan dan bimbinganNya.[3]
Tingkatan  nafsu dalam Al-Qur’an dapat di jelaskan sebagai berikut:
1.      Nafsu Ammarah Bissu’
Nafsu ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syaitan. adalah ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk.

Dengan ciri- ciri:
-nafsu itu selalu menyuruh/ mengajak kepada kejahatan(amarah bissu’)
-dan banyak sekali manusia yang menjadikan nafsunya sebagai illah
-manusia yang seperti itu lebih sesat daripada binatang yang hanya punya nafsu saja, karena mereka tidak mau menggunakan indera dan akalnya.
-oleh karena itu jangan mengikuti nafsu tanpa ilmu pengetahuan, karena hendak menyimpang dari kebenaran.
2.      Nafsu Lawwamah
Nafsu ini tidak/belum sempurna ketenangannya karena selalu menentng atau melawan kejahatan tetapi suatu saat teledor dan lalai berbakti kepada Allah, sehingga di cela dan di sesalinya.[4]
Allah berfirman:
75_2.png
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri). (Q.S.al-Qiyamah[75]: 2)
Jiwa yang mendapat cahaya hati sehinngga bisa tersadar dari kelalaian yang telah di perbuatnya, setelah tersadar ia senantiasa akan melakukan amal kebaikan, jika ia berbuat kejahatan maka hal itu di sebabkan karena perangainya yang berasal dari kegelapan namun bila ia telah mendapatka nur dari Allah maka ia segera akan menyesalinya serta bertobat dari kejahatan yang telah di perbuatnya dengan mengucap istighfar serta meminta ampunan-Nya, sehingga ia kembali kepada Tuhannya Maha Penganmpun.
Ringkasnya, nafs ini merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa di mana di dalam dirinya telah terdapat  akhlak fadhilah (budi pekerti luhur) dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.

3.      Nafsu Muthmainnah
Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari kegoncangan yang di sebabkan oleh bermacam- macam tantangan dan dari bisikan syetan. Di katakan juga jiwa yang tenang
Jiwa yang telah menerima pencerahan, ketenangan dan kedmaian,sebab telah terlepas dari pengaruh hawa nafsu materi, hewani, dan kemakhlukan[5].
Dengan jiwa/ nafsu yang tenang manusia akan kembali kepada-Nya dengan puas diridhoi-Nya.
Orang yang sempurna imannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya maka surgalah tempat tinggalnya, seperti firman Allah:


79_41.png79_40.png

“Adapun orang yang merasa takut kepada kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.” (QS. an-Nazi’at: 40-41)
Dia laksana air mengalir dari atas ke bawah yang karena banyaknya dan tiada sesuatu yang menghambatnya, maka air itu terjun dengan deras, begitu pula jiwa manusia tak henti hentinya mengalir terus dan menjurus ke arah Tuhan. Ke arah inilah Allah Ta’ala mengisyaratkan, “Hai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tu¬han! Kembalilah kepada-Nya!”



Kesimpulan

Nafsu adalah suatu keinginan yang harus dipenuhi. Nafsu sering berkonotasi negatif seperti bernafsu besar dan lain sebagainya. Dalam pandangan Al-Qur’an, nafs diciptakan Allah swt. Dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan.
Tingkatan nafsu ada tiga yakni nafsu ammarah bissu’(diri yang buruk), lawwamah (diri yang menyesal), nafsu muthmainah(diri yang tenang), yang masing- masing mempunyai kriteria sendiri.
Dengan demikian Al-Qur’an memberikan penjelasan, bahwa sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya dari sifat- sifat yang tidak baik agar tidak di ombang- ambingkan oleh sifat- sifat tersebut, sehingga menjadi diri yang muthmainnah. Diri yang muthmainnah adalah diri yang selalu mendapatkan ilham ketaqwan yang mendorong kepada perbuatan baik.
kualitas jiwa juga bergantung kepada kualitas fisik, terutama otak. Jika kualitas fisik dan otak mengalami gangguan, maka jiwa juga akan mengalami gangguan. Kerusakan pada otak menimbulkan kerusakan pada jiwa
Daftar Pustaka

Adz- Dzakiey Hamdani Bakran, 2006, Psikologi Kenabian Memahami Eksistensi Jiwa Nafs , Yogyakarta: Daristy.

Jumantoro Totok, 2001, Psikologi Dakwah, Surabaya: AMZAH.

Mustofa Agus, Menyelam Ke Samudra Ruh dan Jiwa, Surabaya: PADAMA PRESS.

Sangkar Abu, 2006, Berguru Kepada Allah, Jakarta Selatan: Yayasan Sholat Khusyu’.

Sururin, 2011, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




[1] Hamdani Bakran adz- Dzakiey, Psikologi Kenabian Memahami Eksistensi Jiwa (Nafs) ,( Yogyakarta: Daristy, 2006), hal.2
[2] Agus Mustofa, Menyelam ke Samudra Jiwa dan Ruh,( Surabaya: PADAMA PRESS), hal.
[3] Sururin, Ilmu Jiwa Agama,(jakarta: PT  Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 65
[4] Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah, (Surabaya: AMZAH, 2001), hal. 7
[5] Ibid, hal. 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar