..

Kamis, 07 Juni 2012

makalah pancasila penelitian masyarakat marginal urban


LAPORAN PENELITIAN
MASYARAKAT MARGINAL URBAN
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
iain hiTAM PUTIH_1.jpg“PANCASILA”

Dosen Pembimbing
Nama Kelompok IX
1.        Ahmad Fathullah Bin Ali                                                            (B43211071)
2.        Erma Ayu Septiani                                                                    (B03211008)
3.        Moh Arif Bahrudin                                                                    (BO3211021)
4.        Nita Herlina Ekasaputri                                                             (B03211025)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
SURABAYA 2011
MASYARAKAT MARGINAL URBAN
( Masyarakat yang tidak memiliki akses politik)
1.      Latar Belakang

. Waria merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat, namun demikian jumlah waria semakin hari semakin bertambah, terutama di kota-kota besar. Kehadiran seorang waria menjadi bagian dari kehidupan sosial rasanya tidak mungkin dihindari. Waria bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi masyarakat Indonesia. Pola prilaku sosial dan keagamaan masyarakat marginal urban, yakni masyarakat yang tidak memiliki akses politik. Di mana dalam masyarakat ini, para kaum waria yang mempunyai komunitas tersendiri, komunitas ini penting untuk diteliti karena para kaum waria ini menjadi suatu kontrofersi yang ada di Indonesia dan para waria ini ingin disahkan keberadaannya. Situasi dan kondisi masyarakat sekitar sana yakni acuh tak acuh tidak terlalu mempedulikan masalah komunitas waria berada di sekitar mereka.
Mereka juga tida terlalu menghiraukan celaan maupun ejekan yang dikatakan masyaraat sekitar karena mereka menyadari kodrat mereka.mayoritas para waria bergelut dalam pekerjaan salon dan penari ular dari situlah mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup.kehidupan ara waria seperti para perempuan pada  umumnya, mereka mayoritas beragama islam dan beribadahpun seperti para perempuan yang menggunakan mukena dan jilbab
2.      Permasalahan
·         Bagaimana Model Solidaritas Komunitas Waria
·         Bagaimana Tingat Religious Komunitas Waria
·         Bagaimana Pola Kerukunan Komunitas Waria
·         Bagaimana Pandangan Masyarakat Setempat Terhadap Kalangan Waria
3.      Tujuan

Tujuan dari meneliti masyarakat yang tidak memiliki akses politik ini, agar kita mengetahui bersama bagaimana tingkat religious dan bagaimana menghadapi kehidupan bermasyarakat para komunitas waria, serta bagaimana pandangan masyarakat tentang komunitas waria yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
4.      Kajian Teori
·         Teori pendekatan Brannen (Alsa, 2003)
·         Teori rasionalisasi Peter L Berger
5.      Temuan Data
·         Deskripsi hasil wawancara di lapangan dengan narasumber
·         Identitas narasumber, solidaritas sosial dan keagamaan
·         Pekerjaan dan penghasilan narasumber
·         Pengecekan data (triangulasi data)
6.      Pembahasan

Profil Kehidupan Komunitas Waria

Dari para responden yang didapat memberitahukan bahwa pola hidup komunitas waria sama seperti pola hidup perempuan pada umumnya, kebanyakan para waria bekerja sebagai tukang rias dan memiliki salon sendiri. Walaupun ada yang menjadi penari ular, penari jaipongan, dan penyanyi namun pekerjaan yang mereka geluti adalah tukang rias dan salon. Para waria ini lebih cenderung tertarik dengan lelaki, mereka tidak tertarik dengan perempuan dikarenakan perempuan dianggap sama seperti dirinya.para waria ini selalu meyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya, apabila para waria ini berkumpul dengan ibu-ibu berjilbab mereka akan ikut menggunakan jilbab, namun mereka akan  berpenampilan seperti waria lagi apabila telah berada di rumah atau di luar rumah. Mereka juga memiliki rasa kepedulian, jikalau ada orang yang meninggal mereka juga melayat.Dalam segi agama mereka mayoritas beragama islam tetap mengikuti kegiatannya seperti tahlilan, berta’jiah atau yang lainnya, tapi tetap dengan menggunakan pakaian wanita lengkap dengan jilbab mereka
 para waria ini menjalani hidup dengan baik dan dapat diterima oleh masyarakat setempat, masyarakat yang berada di sekitar komunitas waria ini tidak terganggu mereka menjalani hidup normal seperti warga-warga lainnya, walaupun kadang terdapat orang yang mencemooh namun mereka tidak memasukkannya di dalam hati karena merea menyadari kodrat mereka sebagai waria, mereka menggangap cemo’oahan adalah hal yang biasa saja. Dalam segi finansial mereka juga tidak kekurangan, pekerjaan yang digeluti para komunitas ini sangat bisa menopang kehidupan mereka, penghasilan yang hampir mencapai 3 juta perbulan.
Misalnya seperti responden yang bernama Achil umur 35, alamat seduri mojosari mojokerto pekerjaan salon dan makelar mobil, diantara para waria yang lain achil inilah waria yang paling sukses ia memiliki 2 mobil penghasilannyapun sekitar 24 juta dalam sebulan, penghasilan sebanyak itu diperoleh dari bekerja sebagai makelar mobil, rumah yang di tempati juga rumahnya sendiri hasil dari dia bekerja. Achil juga membantu para waria yang lain untuk mempunyai keahian seperti rias dan menari. Dikalangan para waria inilah achil yang paling sukses dan memiliki banyak keahlian. Tempat tinggal achil memang temasuk dalam pedesaan jadi rumah achil itu sudah termasuk rumah yang mewah di desa itu.
Kebanyakan para waria ini sukses dalam pekerjaannya karena mereka sangat bersungguh- sungguh dalam bekerja sebelum mereka membuka salon mereka bersekolah di Surabaya moll I rudi Surabaya salon, mereka juga mencari pengalaman membantu salon meski tidak dibayar karena mereka mengutamakan pengalaman terlebih dahulu setelah itu mereka membuka salon. Penghasilan merekapun bisa ikatakan cukup untuk memenuhi kbutuhan sehari- hari.
Dalam bermasyarakat mereka seperti wanita pada umumnya, mereka juga mengadakan kumpulan waria setempat dan juga mengadakan arisan mereka juga berperilaku sopan, tolong menolong sesama waria dan masyarakat sekitar. Para waria ini selalu berkumpul dihari tertentu.waria ini bukan hanya berasal dari satu desa namun dari beberapa desa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar