..

Kamis, 07 Juni 2012

makalah Bimbingan Konseling klien dan masalah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kemajuan berfikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya, telah mendorong terjadinya globalisasi, situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mencapai tatus dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Keresahan hidip di kalangan masyarakat semakin meningkat karena banyaknya konflik dan masalah.
Bimbingan dan konsling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam membimbing individu untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal, perkembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui komunikasi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
Dalam kajian bimbingan dan konseling kita mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan bimbingan dari  konselor kepada klien untuk menyelesaikan permasalahan yang di alami oleh klien, banyak permasalahan yang dialami oleh klien dan disinilah dapat dipahami permasalahan pada klien.
Dalam pembahasan bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu para klien yang mengalami masalah agar dapat mengambil keputusan secara tepat dan berkesan dengan bantuan konselor.
B.     Rumusan Masalah
                              1.            Pengertian Klien
                              2.            Pengertian Masalah
                              3.            Hubungan antara Klien dan Masalah

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian klien
Klien merupakan semua individu yang diberi bantuan oleh seseorang konselor atas permintaan dia sendiri ataupun permintaan orang lain.[1] Disamping itu klien adalah orang yang perlu memperoleh perhatian sehubunga dengan msalah yang di hadapinya.
Namun demikian keberhasilan mengatasi masalah itu sebenarnya sangat di tentukan oleh pribadi klien itu sendiri.[2] Adapun klien yang dating atas kemauan diri sendiri karena dia sadar bahwa didalam dirinya ada suatu kekurangan atau masalah yang memerlukan bantuan seorang ahli. Akan tetapi ada pula individu tidak sadar akan masalah yang dialaminya karena kekurangan kesadaran diri. Dia mungkin dikirim kepada konselor oleh orang tu atau gurunya. Namun secara umum kalau klien sudah sadar akan diri dan masalahnya maka dia mempunyai harapan terhadap konselor dan proses konseling yaitu supaya dia tumbuh, berkembang, produktif, kreatif dan mandiri.
Shertzer And Stone (1987) mengemukakan bahwa keberhasilan dan kegagalan prooses konseling di tentukan oleh tiga hal yaitu (1) kepribadian klien; (2) harapan klien; (3) pengalaman/ pendidikan klien.[3]
Menurut Kartini Kartono klien hedaknya memiliki sikap dan sifat sebagai berikut :
                              a)            Tebuka maksudnya klien bersedia mengungkapkan segala sesuatu yang diperukan demi kesuksesan proses konseling.
                              b)            Sikap percaya yakni klien harus benar- benar percaya bahwa konselor tidak akan membocorkan rahasiannya kepada siapapun.
                              c)            Bersikap jujur yakni koseli harus mengemukakan data- data yang benar, jujur mengakui bahwa masalah itu yang ia alami.
                             d)            Bertanggung jawab artinya dapat mempertanggung jawabkan kata- kata yang telah ia katakan.
Syarat- Syarat Klien
1.       Mempunyai keberanian dan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan serta masalah- masalah yang dihadapi.[4]
2.      Keinsyafan akan tanggung jawab dan mencari penyelesaian.
3.      Klien harus mempunyai motivasi yang uat untuk mencari penjelasan masalah yang dihadapi. Di sadari sepenuhnya dan mau dibicaraan dengan knselor.persyaratan ini merupakan persyaratan dalam alir menetukan keberhasilan atau kegagalan penyelesaian masalah.
Aneka Ragam Klien
Setelah kita memahami klien dengan latar belakangnya, maka selanjutnya kita akan memahami pula aneka ragam atau jenis klien. Jika seorang dating kepada konselor tentunya ada maksud yang terkandung di dalam hatinya. Namun anyak pula klien yang dating tanpa maksud yang jelas atau mungkin pula kehadiranya karena terpaksa oleh ajakan atau suruhan orang lain.
Berikut ini akan diuraikan berbagai jenis atau ragam klien yang akan dihadapi konselor.
1)      Klien suarela
Klien sukarela maksudnya adalah klien yang hadir di ruang konseling atas kesadaran sendiri. Berhubungan ada maksud dan tujuannya. Mungkin ia ingin memperoleh informasi, menginginkan penjelasan tentang persoalan  yan dihadapinya, tentang karier dan lanjutan studinya.
2)      Klien terpaksa
Klien terpaksa artinya klien yang kehadiranya diruang konseling bukan atas keinginan sendiri. Dia dating atas dorongan orang tua, wali kelas, teman dan sebagainya. Mungkin klien ini dianggap perilakunya kurang sesuai dengan aturan lingkungan keluarga atau sekolah.
3)      Klien enggan
Salah satu bentuk Klien enggan adalah klien yang banyak bicara. Pada prinsipnya klien seperti ini enggan untuk dibantu. Dia hanya senang untuk berbincang- bincang dengan konselor, tanpa ingin menyelesaikan masalahnya.
4)      Klien krisis
Yang dimaksud klien krisi adalah jika seorang menghadapi musibah seperti kematian (orang tua, pacar/ isteri, anak yang dicintai), kebakaran rumah, di perkosa dan sebagainya yang dihadapkan pada konselor untuk diberi bantuan agar dia menjadi stabil dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang baru (musibah tersebut)
Beberapa gejala perilaku klien krisis adalah tertutup, atau meutup diri dari luar, amat emosional, tak berdaya, kurang mampu berfikir rasional, tidak mampu mengurus diri dan keluarga.
Menurut Imam Suyuti di dalam bukunya “ Pokok- Pokok Bahasan Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah” klien atau subjek konseling islam adalah yang mempunyai masalah yang memerlukan bantuan bimbingan dan konseling.[5]
B.      Pengertian Masalah
Dalam kehidupan manusia selalu menjumpai hambatan, rintangan dan kesulitan dalam usahanya mencapai tujuan. Masalah tersebut timbul bila individu atau kelmpok masyarakat berbuat yang menyimpang dari norma- norma yang berlaku.
Menurut Sapari Imam Asy’ary masalah adalah kenyataan yang tidak meringankan dalam hidup, baik perasaan pikiran, kemauan terhadap perasaan sal yang dirahasiakan leh seorang klien dimana sisi klien tidak menyadari dirinya dan cara mencapainya.
Masalah dalam Kamus Konseling adalah sesuatu keadaan yang mengaibatkan seorang atau kelompok  menjadi rugi/ sakit dalam melakukan sesuatu.[6]
Masalah dalam Kamus Pskologi dikatakan bahwa masalah atau problem adalah situasi yang tidak pasti, meragukan dan sukat dipahami, masalah atau pernyataan yang memerlukan pemecahan.[7]
Sedangkan menurut WS.Winkel dalam bukunya “ Bimbingan Da Konseling Di Sekolah Menengah” masalah adalah suatu yang menghambat, metintangi, mempersulit dalam mencapai usaha untuk mencapai tujuan.[8]
Masalah dapat ditimbulkan untuk berbagai factor atau bidang kehidupan antara lain:
                              a)            Bidang pernikahan dan keluarga
                              b)            Bidang pendidikan
                              c)            Bidang social
                             d)            Bidang pekerjaan
                              e)            Bidang keagamaan



BAB III
KESIMPULAN
Klien adalah individu yang mempunyai masalah dan belum mampu menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga dia membutuhkan bantuan untuk dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya tersebut. Dan keberhasilan mengatasi masalah tersebut tergantung pada klien iti sendiri.
Masalah adalah suatu yang menghambat, merintangi atau mempersulit usaha individu untuk mencapai tujuan, hal ini perlu ditangani oleh konselr bersama dengan klien.
Dimana ada klien disitulah ada masalah  da butuh pemecahan masalah yang sedang dihadapinya.



DAFTAR PUSTAKA
Sofyan.S.Willis, Konseling Individu Teori  Dan Praktek,( Bandung: Alfabeta, 2010), Cetakan V
Imam Suyuti Farid, Pokok- Pokok Bimbingan Penyulhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah,( Bandung: Bulan Bintang, 2007)
W.s.winkel.bimbingan dan konseling di institute pendidikan,( Jakarta: pt rineka cipta,1991)
Kartini Kartono Dan Dani Gul, Kamuspsikolgi,(Bandung : Pionir Jaya, 1978)


[1] Sofyan.S.Willis, Konseling Individu Teori  Dan Praktek,( Bandung: Alfabeta, 2010),h.111
[2] Imam Suyuti Farid, Pokok- Pokok Bimbingan Penyulhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah,( Bandung: Bulan Bintang, 2007), h.14
[3] Sofyan.S.Willis, Konseling Individu Teori  Dan Praktek,( Bandung: Alfabeta, 2010),h.111

[4] W.s.winkel.bimbingan dan konseling di institute pendidikan,( Jakarta: pt rineka cipta,1991),h.309
[5] Imam Suyuti Farid, Pokok- Pokok Bimbingan Penyulhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah,( Bandung: Bulan Bintang, 2007), h.29
[6] Sudasn, Kamus Konseling,h.138
[7] Kartini Kartono Dan Dani Gul, Kamuspsikolgi,(Bandung : Pionir Jaya, 1978),h.12
[8] Ws.Winkel, Bimbingan Dan Konseling Di Seklah Menengah,(Jakarta : Gramedia, 1989),h.12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar