..

Kamis, 07 Juni 2012

makalah antropologi sistem kekerabatan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masalah asal mula dan perkembangan keluarga dalam masyarakat telah lama menjadi perhatian para ahli ilimu- ilmu sosial, yang dalam upaya itu telah mencari bahan perbandingannya dalam kawanan- kawanan hewan yang hidup berkelompok. Dengan menganalisis hubungan anak terhadap ayahnya dengan membandingkan hubungan yang ada dalam keluarga.
Pada tingkat pertama dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaannya, manusia mula- mula hidup mirip sekawan hewan berkelompok, pria dan wanita hidup bebas tanpa ikatan. Kelompok keluarga inti sebagai inti masyarakat karena itu juga belum ada. Lama- lama manusia sadar akan hubungan antara seorang ibu dan anak- anaknya, yang menjadi satu kelompok keluarga inti karena anak- anak hanya mengenal ibunya, tetapi tidak mengenal ayahnya. Dalam kelompok seperti ini ibulah yang menjadi kepala keluarga. Perkawinan antara ibu dan anak yang berjenis pria di hindri, sehingga timbullah adat eksogami. Kelompok keluarga yang mulai meluas karena garis keturunan diperhitungkn melalui garis  ibu, dengan ini telah mencapai tingkat dalam proses perkembangan kebudayaan manusia.
Dari penelitian para ahli terungkap bahwa masyarakat dengan sisitem kekerabatan berdasarkan matrilineal tidak hanya ada pada masyarakat- masyarakat dengan tingkat perkembangan kebudayaan yang sangat rendah, tetapi juga ada apada banyak kebudayaan yang berasal dari berbagai tingkat perkembangan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian kelompok kekerabatan
2.      Pengertian perkawinan
3.      Pengertian rumah tangga dan keluarga inti
4.      Pengertian komunitas( besar dan kecil)
C.    Tujuan
Mengethui lebih jauh sistem kekerabatan dalam masyarakat dan kebudayaan guna mencapai penyesuaian dalam peradaban.
BAB II
PEMBAHASAN
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial.  Setiap suku di indonesia memilki sistem kekerabatan yang berbeda- beda.
Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
 Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar.
1.    Kelompok kekerabatan
Kelompok kekerabatan adalah yang meliputi orang- orang yang mempunyai kakek bersama, atau yang percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang kakek bersama menurut perhitungan garis patrilineal(kebapaan).[1]
Suatu kelompok adalah kesatuan individu yang diikat oleh sekurang- kurangnnya 6 unsur, yaitu:
a)      Sisitem norma- norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok,
b)      Rasa kepribadian kelompok yang disadari semua warganya.
c)      Interaksi yang itensif antar warga kelompok,
d)     Sistem hak dan kewajiban yang mengatur interaksi antarwarga kelompok,
e)      Pemimpin yang mengatur kegiatan- kegiatan kelompok, dan
f)       Sistem hak dan kewajiban terhadap harta produktif, harta konsumtif, atau harta pusaka tertentu. Dengan demikian hubungan kekerabatan merupakan unsur pengikat bagi suatu kelompok kekerabatan.
Biasanya tidak semua kelompok kekerabatan mempunyai 6 unsur tersebut.
Mudrok membedakan antara 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi- fungsi sosialnya, yaitu:
a)      Kelompok kekerabatan berkorporasi, biasanya mempunyai ke- 6 unsur tersebut.istilah “berkorporasi” umumnya menyangkut unsur 6 tersebut yaitu adanya hak bersama atas sejumlah harta.
b)      Kelompok kekerabatan kadangkala, yang sering kali tidak memiliki unsur 6 tersebut, terdiri dari banyak anggota, sehingga interaksi yang terus- menerus dan itensif tidak mungkin lagi, tetapi hanya berkumpul kadang- kadang saja.
c)      Kelompok kekerabatan menurut adat, biasanya ridak memiliki unsur pada yang ke 4,5 dan 6 bahkan 3. Kelompok- kelompok ini bentuknya sudah sedemikian besar, sehingga warganya seringkali sudah tidak mengenal. Rasa kebribadian sering kali juga di tentukan oleh tanda- tanda adat tersebut.
Kelompok- kelompok kekerabatan yang termasuk golongan pertama adalah kindred daan keluarga luas, sedang golongan ke dua termasuk deme, keluarga ambilineal kecil, keluarga ambilineal besar, klen kecil, klen besar, frati, dan paroh masyarakat.[2]
Ø  Kindret yakni, berkumpulnya orang- orang saling membntu dan melkukan kegiatan- kegiatan bersama saudara, sepupu, kerabat isteri, kerabat yang lebih tua dan muda. Di mulai dari seorang warga yang memprakkarsai suatu kegiatan. Dan biasanya hubungan kekerabatan ini di manfaatkan untuk memperlancar bisnis seseorang.
Ø  Keluarga luas yakni, kekerabatan ini terdiri dari lebih dari satu keluarga inti. Terutama di daerah pedesaan, warga keluarga luas umumnya masih tinggal berdekatan, dan seringkali bahkan masih tinggal bersama- sama dalam satu rumah.
Kelompok kekerabatan berupa keluarga luas biasanya di kepalai oleh anggota pria yang tertua.
Dalam berbagai masyarakat di sunia, ikatan keluarga luas sedemikian eratnya, sehingga mereka tidak hanya tinggal bersama dalam satu rumah besar, tetpi juga merupakan satu rumah tangga dan berbuat seakan- akan mereka merupakan satu keluarga inti yang besar.
Ø Keluarga ambilineal kecil yakni, terjadi apabila suatu keluarga luas membentuk suatu kepribdian yang khas, yang di sadari oleh para warga. Kelompok ambilinel kecil biasanya terdiri dari sekitar 25- 30 jiwa sehingga mereka masih saling mengenal dan mengetahui hubungan kekerabatan masing- masing.
Ø Klen kecil yakni, kelompok kekerabatan yang terdiri dari beberapa kelluarga luas keturunan dari satu leluhur. Ikatan kekerabatan berdasarkan hubungan melalui garis keturunan pria saja(patrilineal), atau melalui garis keturunan wanita(matrilineal), jumlahnya sekitar 50-70 orang biasanya mereka msih saling mengenal dan bergaul dan biasanya masih tinggal satu desa.
Ø Klen besar yakni, kelompok kekerabatan yang terdiri dari semua keturunan dari seorang leluhur, yang diperhitungkn dari garis keturunan pria atau wanita, sosok leluhur yang menurunkan para warga klen besr berpuluh- puluh generasi yang lampau itu sudah tidak jelas lagi, dan seringkali sudah di anggap keramat. Jumlah yang sangat besr menyebabkan mereka sudah tidak mengenal kerabat- kerabat yang hubungan kekerabatannya jauh.
Ø Frati yakni, gabungan antara patrilineal maupun matrilineal, dan dari kelompok klen setempat( bis klen kecil, tetapi bisa juga bagian dari klen besar). Namun penggaubungannya tidak selalu merata.
2.        Perkawinan
Perkawinan dapat di asumsikan sebagai keterkaitan seorang pria dan wanita untuk menjalin hubungan dan hidup bersama untuk mencapai tujuan bersama.[3]
Saat peralihan yang pada semua masyarakat di anggap penting dalah peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga, yaitu perkawinan. Dalam kebudayaan manusia, perkawinan merupakan pengatur tingkah laku manusia yang berkaitan dengan kehidupan kelaminnya. Perkawinan membatasi eseorang untuk bersetubuh dengan lawan jenis lain selain suami atau isterinya. Perkawinan mempunyai berbagai fungsi dalam kehidupan bermasyarakat manusia yaitu, memberi perlindungan kepada anak-anak hasil perkawinan itu, memenuhi kebutuhan manusia akan seorang teman hidup, dan juga memelihara hubungan baik dengan kelompok- kelompok kerabat tertentu.
3.        Rumah tangga dan keluarga inti
Dengan menikah, sepasang suami- isteri membentuksuatu kesatuan yang di sebut rumah tangga, yaitu kesatuan yang mengurus ekonomi rumah tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti(satu pasangan suami isteri dan anak), tetapi mungkin juga terdiri dari 2 atau 3 keluarga inti.
Keluarga inti adalah termasuk dalam keluarga nti suami, isteri, dan anak- anak mereka yang belum menikah. Anak tiri dan anak yang secara resmi di angkat sebagai anak memiliki hak yang kurang lebih sama dengan anak kandung. Bentuk keluarga yang seperti ini dapat di katakan bentuk yang sederhana. Keluarga inti lebih kompleks adalah apabila dalam keluarga terdapat lebih dari suami atau isteri. Keluarga inti seperti ini adalah keluarga inti yang berdasarkan poligami atau poliandri.
Keluarga inti di seluruh dunia memiliki beberapa fungsi yakni:
a)      Di mana warganya dapat memperoleh dan mengharapkan bantuan serta perlindungan dari sesama warga keluarga inti.
b)      Di mana warganya diasuh dan memperoleh pendidikan awalnya ketika mereka belum mandiri
c)      Kelompok sosial dengan ekonomi rumah tangga yang mandiri
d)     Melaksanakan pekerjaan- pekerjaan produktif.
Secara umum fungsi keluarga meliputi pengturan seksual, reproduksi, sosialisasi, pemeliharaan, penempatan anak dalam masyarakat, pemuas kebutuhan perseorangan, dan kontrol sosial.[4]
Karakteristik keluarga dapat diidentifikasikan dengan hal berikut:
a)      Keluarga terdiri atas orang- orang yang bersatu karena ikatan perkawinan, darah atau adopsi.
b)      Para anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama- sama dalam satu rumah, dan mereka membentuk satu rumah tangga. Satu rumah tangga terdiri dari kakek, nenek,anak-anak, dan cucu, kadang satu rumah tangga terdiri atas suami dan isteri, tanpa anak, atau dengan satu atau dua, tiga anak saja.
c)      Keluarga merupakan satu kesatuan yang berinterksi dan berkomunikasi dan memerankan peran masing- masing.
d)     Keluarga itu mempertahankan suatu kebudayaan bersama.

4.        Komunitas (besar dan kecil)

                        Kata Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berasal dari kata dasar communis yang artinya masyarakat, publik atau banyak orang. komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut. Kekuatan pengikat suatu komunitas, terutama, adalah kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sosialnya yang biasanya, didasarkan atas kesamaan latar belakang budaya, ideologi, sosial-ekonomi. Disamping itu secara fisik suatu komunitas biasanya diikat oleh batas lokasi atau wilayah geografis. Masing-masing komunitas, karenanya akan memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam menanggapi dan menyikapi keterbatasan yang dihadapainya serta mengembangkan kemampuan kelompoknya.
                        Komunitas kecil biasanya hanya berjumlah 5 sampai 20 orang, lebih dari itu sudah di namakan komunitas besar.




BAB III
Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. asal mula dan perkembangan keluarga dalam masayarakat telah lama menjadi perhatian para ahli – ahli dalam ilmu sosial. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar



DAFTAR PUSTAKA

Ihrono TO, Pokok- Pokok Antropologi Budaya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006)
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi II,( Jakarta: PT Renika Cipta, 1998)
Mawardi, Ilmu Sosial Dasar,(Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2009)
Munandar. M- Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial,( bandung: PT Refika Aditma, 2006)


[1] TO Ihroni, Pokok- Pokok Antropologi Budaya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006),hal: 159
[2] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi II,( Jakarta: PT Renika Cipta, 1998), hal: 110
[3] Mawardi, Ilmu Sosial Dasar,(Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2009)hal, 215
[4] M. Munandar- Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial,( bandung: PT Refika Aditma, 2006), hal:115

makalah pancasila penelitian masyarakat marginal urban


LAPORAN PENELITIAN
MASYARAKAT MARGINAL URBAN
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
iain hiTAM PUTIH_1.jpg“PANCASILA”

Dosen Pembimbing
Nama Kelompok IX
1.        Ahmad Fathullah Bin Ali                                                            (B43211071)
2.        Erma Ayu Septiani                                                                    (B03211008)
3.        Moh Arif Bahrudin                                                                    (BO3211021)
4.        Nita Herlina Ekasaputri                                                             (B03211025)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
SURABAYA 2011
MASYARAKAT MARGINAL URBAN
( Masyarakat yang tidak memiliki akses politik)
1.      Latar Belakang

. Waria merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat, namun demikian jumlah waria semakin hari semakin bertambah, terutama di kota-kota besar. Kehadiran seorang waria menjadi bagian dari kehidupan sosial rasanya tidak mungkin dihindari. Waria bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi masyarakat Indonesia. Pola prilaku sosial dan keagamaan masyarakat marginal urban, yakni masyarakat yang tidak memiliki akses politik. Di mana dalam masyarakat ini, para kaum waria yang mempunyai komunitas tersendiri, komunitas ini penting untuk diteliti karena para kaum waria ini menjadi suatu kontrofersi yang ada di Indonesia dan para waria ini ingin disahkan keberadaannya. Situasi dan kondisi masyarakat sekitar sana yakni acuh tak acuh tidak terlalu mempedulikan masalah komunitas waria berada di sekitar mereka.
Mereka juga tida terlalu menghiraukan celaan maupun ejekan yang dikatakan masyaraat sekitar karena mereka menyadari kodrat mereka.mayoritas para waria bergelut dalam pekerjaan salon dan penari ular dari situlah mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup.kehidupan ara waria seperti para perempuan pada  umumnya, mereka mayoritas beragama islam dan beribadahpun seperti para perempuan yang menggunakan mukena dan jilbab
2.      Permasalahan
·         Bagaimana Model Solidaritas Komunitas Waria
·         Bagaimana Tingat Religious Komunitas Waria
·         Bagaimana Pola Kerukunan Komunitas Waria
·         Bagaimana Pandangan Masyarakat Setempat Terhadap Kalangan Waria
3.      Tujuan

Tujuan dari meneliti masyarakat yang tidak memiliki akses politik ini, agar kita mengetahui bersama bagaimana tingkat religious dan bagaimana menghadapi kehidupan bermasyarakat para komunitas waria, serta bagaimana pandangan masyarakat tentang komunitas waria yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
4.      Kajian Teori
·         Teori pendekatan Brannen (Alsa, 2003)
·         Teori rasionalisasi Peter L Berger
5.      Temuan Data
·         Deskripsi hasil wawancara di lapangan dengan narasumber
·         Identitas narasumber, solidaritas sosial dan keagamaan
·         Pekerjaan dan penghasilan narasumber
·         Pengecekan data (triangulasi data)
6.      Pembahasan

Profil Kehidupan Komunitas Waria

Dari para responden yang didapat memberitahukan bahwa pola hidup komunitas waria sama seperti pola hidup perempuan pada umumnya, kebanyakan para waria bekerja sebagai tukang rias dan memiliki salon sendiri. Walaupun ada yang menjadi penari ular, penari jaipongan, dan penyanyi namun pekerjaan yang mereka geluti adalah tukang rias dan salon. Para waria ini lebih cenderung tertarik dengan lelaki, mereka tidak tertarik dengan perempuan dikarenakan perempuan dianggap sama seperti dirinya.para waria ini selalu meyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya, apabila para waria ini berkumpul dengan ibu-ibu berjilbab mereka akan ikut menggunakan jilbab, namun mereka akan  berpenampilan seperti waria lagi apabila telah berada di rumah atau di luar rumah. Mereka juga memiliki rasa kepedulian, jikalau ada orang yang meninggal mereka juga melayat.Dalam segi agama mereka mayoritas beragama islam tetap mengikuti kegiatannya seperti tahlilan, berta’jiah atau yang lainnya, tapi tetap dengan menggunakan pakaian wanita lengkap dengan jilbab mereka
 para waria ini menjalani hidup dengan baik dan dapat diterima oleh masyarakat setempat, masyarakat yang berada di sekitar komunitas waria ini tidak terganggu mereka menjalani hidup normal seperti warga-warga lainnya, walaupun kadang terdapat orang yang mencemooh namun mereka tidak memasukkannya di dalam hati karena merea menyadari kodrat mereka sebagai waria, mereka menggangap cemo’oahan adalah hal yang biasa saja. Dalam segi finansial mereka juga tidak kekurangan, pekerjaan yang digeluti para komunitas ini sangat bisa menopang kehidupan mereka, penghasilan yang hampir mencapai 3 juta perbulan.
Misalnya seperti responden yang bernama Achil umur 35, alamat seduri mojosari mojokerto pekerjaan salon dan makelar mobil, diantara para waria yang lain achil inilah waria yang paling sukses ia memiliki 2 mobil penghasilannyapun sekitar 24 juta dalam sebulan, penghasilan sebanyak itu diperoleh dari bekerja sebagai makelar mobil, rumah yang di tempati juga rumahnya sendiri hasil dari dia bekerja. Achil juga membantu para waria yang lain untuk mempunyai keahian seperti rias dan menari. Dikalangan para waria inilah achil yang paling sukses dan memiliki banyak keahlian. Tempat tinggal achil memang temasuk dalam pedesaan jadi rumah achil itu sudah termasuk rumah yang mewah di desa itu.
Kebanyakan para waria ini sukses dalam pekerjaannya karena mereka sangat bersungguh- sungguh dalam bekerja sebelum mereka membuka salon mereka bersekolah di Surabaya moll I rudi Surabaya salon, mereka juga mencari pengalaman membantu salon meski tidak dibayar karena mereka mengutamakan pengalaman terlebih dahulu setelah itu mereka membuka salon. Penghasilan merekapun bisa ikatakan cukup untuk memenuhi kbutuhan sehari- hari.
Dalam bermasyarakat mereka seperti wanita pada umumnya, mereka juga mengadakan kumpulan waria setempat dan juga mengadakan arisan mereka juga berperilaku sopan, tolong menolong sesama waria dan masyarakat sekitar. Para waria ini selalu berkumpul dihari tertentu.waria ini bukan hanya berasal dari satu desa namun dari beberapa desa.


makalah Bimbingan Konseling klien dan masalah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kemajuan berfikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya, telah mendorong terjadinya globalisasi, situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mencapai tatus dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Keresahan hidip di kalangan masyarakat semakin meningkat karena banyaknya konflik dan masalah.
Bimbingan dan konsling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam membimbing individu untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal, perkembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui komunikasi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
Dalam kajian bimbingan dan konseling kita mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan bimbingan dari  konselor kepada klien untuk menyelesaikan permasalahan yang di alami oleh klien, banyak permasalahan yang dialami oleh klien dan disinilah dapat dipahami permasalahan pada klien.
Dalam pembahasan bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu para klien yang mengalami masalah agar dapat mengambil keputusan secara tepat dan berkesan dengan bantuan konselor.
B.     Rumusan Masalah
                              1.            Pengertian Klien
                              2.            Pengertian Masalah
                              3.            Hubungan antara Klien dan Masalah

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian klien
Klien merupakan semua individu yang diberi bantuan oleh seseorang konselor atas permintaan dia sendiri ataupun permintaan orang lain.[1] Disamping itu klien adalah orang yang perlu memperoleh perhatian sehubunga dengan msalah yang di hadapinya.
Namun demikian keberhasilan mengatasi masalah itu sebenarnya sangat di tentukan oleh pribadi klien itu sendiri.[2] Adapun klien yang dating atas kemauan diri sendiri karena dia sadar bahwa didalam dirinya ada suatu kekurangan atau masalah yang memerlukan bantuan seorang ahli. Akan tetapi ada pula individu tidak sadar akan masalah yang dialaminya karena kekurangan kesadaran diri. Dia mungkin dikirim kepada konselor oleh orang tu atau gurunya. Namun secara umum kalau klien sudah sadar akan diri dan masalahnya maka dia mempunyai harapan terhadap konselor dan proses konseling yaitu supaya dia tumbuh, berkembang, produktif, kreatif dan mandiri.
Shertzer And Stone (1987) mengemukakan bahwa keberhasilan dan kegagalan prooses konseling di tentukan oleh tiga hal yaitu (1) kepribadian klien; (2) harapan klien; (3) pengalaman/ pendidikan klien.[3]
Menurut Kartini Kartono klien hedaknya memiliki sikap dan sifat sebagai berikut :
                              a)            Tebuka maksudnya klien bersedia mengungkapkan segala sesuatu yang diperukan demi kesuksesan proses konseling.
                              b)            Sikap percaya yakni klien harus benar- benar percaya bahwa konselor tidak akan membocorkan rahasiannya kepada siapapun.
                              c)            Bersikap jujur yakni koseli harus mengemukakan data- data yang benar, jujur mengakui bahwa masalah itu yang ia alami.
                             d)            Bertanggung jawab artinya dapat mempertanggung jawabkan kata- kata yang telah ia katakan.
Syarat- Syarat Klien
1.       Mempunyai keberanian dan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan serta masalah- masalah yang dihadapi.[4]
2.      Keinsyafan akan tanggung jawab dan mencari penyelesaian.
3.      Klien harus mempunyai motivasi yang uat untuk mencari penjelasan masalah yang dihadapi. Di sadari sepenuhnya dan mau dibicaraan dengan knselor.persyaratan ini merupakan persyaratan dalam alir menetukan keberhasilan atau kegagalan penyelesaian masalah.
Aneka Ragam Klien
Setelah kita memahami klien dengan latar belakangnya, maka selanjutnya kita akan memahami pula aneka ragam atau jenis klien. Jika seorang dating kepada konselor tentunya ada maksud yang terkandung di dalam hatinya. Namun anyak pula klien yang dating tanpa maksud yang jelas atau mungkin pula kehadiranya karena terpaksa oleh ajakan atau suruhan orang lain.
Berikut ini akan diuraikan berbagai jenis atau ragam klien yang akan dihadapi konselor.
1)      Klien suarela
Klien sukarela maksudnya adalah klien yang hadir di ruang konseling atas kesadaran sendiri. Berhubungan ada maksud dan tujuannya. Mungkin ia ingin memperoleh informasi, menginginkan penjelasan tentang persoalan  yan dihadapinya, tentang karier dan lanjutan studinya.
2)      Klien terpaksa
Klien terpaksa artinya klien yang kehadiranya diruang konseling bukan atas keinginan sendiri. Dia dating atas dorongan orang tua, wali kelas, teman dan sebagainya. Mungkin klien ini dianggap perilakunya kurang sesuai dengan aturan lingkungan keluarga atau sekolah.
3)      Klien enggan
Salah satu bentuk Klien enggan adalah klien yang banyak bicara. Pada prinsipnya klien seperti ini enggan untuk dibantu. Dia hanya senang untuk berbincang- bincang dengan konselor, tanpa ingin menyelesaikan masalahnya.
4)      Klien krisis
Yang dimaksud klien krisi adalah jika seorang menghadapi musibah seperti kematian (orang tua, pacar/ isteri, anak yang dicintai), kebakaran rumah, di perkosa dan sebagainya yang dihadapkan pada konselor untuk diberi bantuan agar dia menjadi stabil dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang baru (musibah tersebut)
Beberapa gejala perilaku klien krisis adalah tertutup, atau meutup diri dari luar, amat emosional, tak berdaya, kurang mampu berfikir rasional, tidak mampu mengurus diri dan keluarga.
Menurut Imam Suyuti di dalam bukunya “ Pokok- Pokok Bahasan Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah” klien atau subjek konseling islam adalah yang mempunyai masalah yang memerlukan bantuan bimbingan dan konseling.[5]
B.      Pengertian Masalah
Dalam kehidupan manusia selalu menjumpai hambatan, rintangan dan kesulitan dalam usahanya mencapai tujuan. Masalah tersebut timbul bila individu atau kelmpok masyarakat berbuat yang menyimpang dari norma- norma yang berlaku.
Menurut Sapari Imam Asy’ary masalah adalah kenyataan yang tidak meringankan dalam hidup, baik perasaan pikiran, kemauan terhadap perasaan sal yang dirahasiakan leh seorang klien dimana sisi klien tidak menyadari dirinya dan cara mencapainya.
Masalah dalam Kamus Konseling adalah sesuatu keadaan yang mengaibatkan seorang atau kelompok  menjadi rugi/ sakit dalam melakukan sesuatu.[6]
Masalah dalam Kamus Pskologi dikatakan bahwa masalah atau problem adalah situasi yang tidak pasti, meragukan dan sukat dipahami, masalah atau pernyataan yang memerlukan pemecahan.[7]
Sedangkan menurut WS.Winkel dalam bukunya “ Bimbingan Da Konseling Di Sekolah Menengah” masalah adalah suatu yang menghambat, metintangi, mempersulit dalam mencapai usaha untuk mencapai tujuan.[8]
Masalah dapat ditimbulkan untuk berbagai factor atau bidang kehidupan antara lain:
                              a)            Bidang pernikahan dan keluarga
                              b)            Bidang pendidikan
                              c)            Bidang social
                             d)            Bidang pekerjaan
                              e)            Bidang keagamaan



BAB III
KESIMPULAN
Klien adalah individu yang mempunyai masalah dan belum mampu menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga dia membutuhkan bantuan untuk dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya tersebut. Dan keberhasilan mengatasi masalah tersebut tergantung pada klien iti sendiri.
Masalah adalah suatu yang menghambat, merintangi atau mempersulit usaha individu untuk mencapai tujuan, hal ini perlu ditangani oleh konselr bersama dengan klien.
Dimana ada klien disitulah ada masalah  da butuh pemecahan masalah yang sedang dihadapinya.



DAFTAR PUSTAKA
Sofyan.S.Willis, Konseling Individu Teori  Dan Praktek,( Bandung: Alfabeta, 2010), Cetakan V
Imam Suyuti Farid, Pokok- Pokok Bimbingan Penyulhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah,( Bandung: Bulan Bintang, 2007)
W.s.winkel.bimbingan dan konseling di institute pendidikan,( Jakarta: pt rineka cipta,1991)
Kartini Kartono Dan Dani Gul, Kamuspsikolgi,(Bandung : Pionir Jaya, 1978)


[1] Sofyan.S.Willis, Konseling Individu Teori  Dan Praktek,( Bandung: Alfabeta, 2010),h.111
[2] Imam Suyuti Farid, Pokok- Pokok Bimbingan Penyulhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah,( Bandung: Bulan Bintang, 2007), h.14
[3] Sofyan.S.Willis, Konseling Individu Teori  Dan Praktek,( Bandung: Alfabeta, 2010),h.111

[4] W.s.winkel.bimbingan dan konseling di institute pendidikan,( Jakarta: pt rineka cipta,1991),h.309
[5] Imam Suyuti Farid, Pokok- Pokok Bimbingan Penyulhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah,( Bandung: Bulan Bintang, 2007), h.29
[6] Sudasn, Kamus Konseling,h.138
[7] Kartini Kartono Dan Dani Gul, Kamuspsikolgi,(Bandung : Pionir Jaya, 1978),h.12
[8] Ws.Winkel, Bimbingan Dan Konseling Di Seklah Menengah,(Jakarta : Gramedia, 1989),h.12